Minggu, 23 Mei 2010

[Koran-Digital] Menagih 'Janji' Anggito

  • Menagih 'Janji' Anggito

    INI sepenggal lakon keseharian di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Senayan, Jakarta. Akhir April lalu, Komisi XI menggelar rapat anggaran perubahan dengan mengundang tim pejabat Kementerian Keuangan. Rapat tertutup ini ternyata berubah menjadi ajang curhat. "Kalau pulang kampung, kami susah membuktikan kinerja kami," kata Murady Darmansyah, politikus Partai Hanura dari Provinsi Jambi.

    Bidang kerja Komisi Keuangan memang rada abstrak. Ini komisi yang menyoroti kebijakan keuangan, perencanaan pembangunan nasional, lembaga keuangan, dan perbankan. Surat utang, obligasi, dan postur anggaran dipelototi di sini. Tapi, ya, sebatas itu. Kewenangan untuk mengusulkan dan meloloskan proyek teknis tidak ada di komisi ini. "Teman di komisi infrastruktur, misalnya, bisa mengklaim memperjuangkan pembangunan jalan tol atau pelabuhan di daerahnya," kata Murady. "Lha, kami? Masak mau bilang ikut jualan surat utang negara?"

    Curhat ala anggota Dewan berlanjut. Melchias Markus Mekeng, Wakil Ketua Komisi XI dari Partai Golkar, berkisah tentang betapa miskin daerah asalnya, Nusa Tenggara Timur. "Pengairan sulit, lahan pertanian kering," katanya. Karena itu, ia meminta pemerintah membangun waduk untuk daerah yang memilihnya dalam pemilihan legislatif tahun lalu.

    Achsanul Qosasi dari Partai Demokrat punya kisah senada. Ia pun bertutur tentang daerah konstituennya, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. "Di bagian utara Sampang, masyarakat harus menyedot air laut untuk mendapat air bersih," katanya. "Pemerintah mesti membantu, dong."

    Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu pun diam menyimak serangkaian kisah sedih seperti diungkapkan para politikus tadi. Anggito ketika itu datang mewakili Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang sedang menghadiri pertemuan tahunan Bank Dunia di Washington, DC, Amerika Serikat. Sederet keluhan tadi ditanggapi Anggito dengan nada yakin. "Oke, bisa, Pak, tapi harus berkoordinasi dengan Badan Anggaran," kata Anggito seperti ditirukan Achsanul Qosasi.

    Walhasil, rapat mencapai kata sepakat. Alokasi dana proyek pembangunan di daerah pemilihan anggota Komisi Keuangan itu akan dibahas di Badan Anggaran. "Saat itu diperkirakan angkanya Rp 2 triliun," kata Achsanul. Para anggota Komisi Keuangan pun lega mendengar kabar baik ini.

    l l l

    Janji belum terwujud, eh, protes menghampiri. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menilai kesepakatan Rp 2 triliun itu sebagai modus baru permainan antara eksekutif dan legislatif. Menurut lembaga swadaya masyarakat ini, usul mengenai proyek teknis tidak diatur melalui Komisi Keuangan, tapi ditangani komisi yang membidangi hal teknis seperti pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan. Kesepakatan ini, menurut Fitra, menyimpang dari prosedur.

    Penyimpangan ini bisa berdampak serius. "Kami khawatir proses semacam ini bisa mengebiri pengawasan pemerintah," kata Sekretaris Jenderal Fitra, Yuna Farhan. Jika setiap anggota Dewan menuntut proyek untuk daerah konstituennya, kualitas pengawasan legislatif kepada eksekutif bakal melemah. "Apalagi sampai sekarang mekanisme pengawasan penggunaan dana belum terbentuk," kata Yuna.

    Model kesepakatan seperti ini, bila dilegalkan, bagi Yuna Farhan, bakal mendorong maraknya calo anggaran. Pejabat dan pengusaha daerah akan "menempel" anggota Dewan pusat demi mengejar kue anggaran.

    Para politikus Komisi XI berpendapat lain. Mekeng , Achsanul, dan Murady menilai kecurigaan itu tak beralasan. Permintaan itu tak lebih dari bagian hak anggaran yang mereka miliki sebagai anggota Dewan. Apalagi, menurut Mekeng, Komisi Keuangan sudah berusaha mengoptimalkan Rp 11 triliun penerimaan negara dari sektor perpajakan. "Kami minta dialokasikan Rp 2 triliun," kata Mekeng. "Kalau komisi lain minta, ya, silakan saja."

    l l l

    Lakon belum berhenti. Tiga pekan lalu, APBN Perubahan 2010 disahkan Sidang Paripurna DPR. Palu sudah resmi diketukkan. Tak jelas ihwal nasib alokasi Rp 2 triliun sebagaimana diusulkan Komisi Keuangan tadi. Maka, sepekan setelah pengesahan bujet nasional itu, Komisi XI meminta diadakan rapat tertutup dengan Menteri Keuangan. Padahal tadinya rapat ini terbuka untuk umum. "Mereka ingin klarifikasi langsung dari Menteri Keuangan, ke mana duit Rp 2 triliun itu," kata sumber Tempo di lingkungan Komisi Keuangan.

    Anggota Komisi Keuangan lalu menghujani Menteri Sri Mulyani dengan pertanyaan, "Jadi, ada-tidak barang itu?" Menteri Sri Mulyani, yang pekan lalu resmi digantikan Agus Martowardojo, menggeleng tak paham. Menurut sumber Tempo, Menteri Sri tidak tahu-menahu ihwal "janji" pengalokasian anggaran Rp 2 triliun itu. Ia pun bertanya kepada Anggito, yang juga hadir dalam rapat. "Saya diminta menjelaskan, ya, saya jelaskan di rapat itu, sudah clear," kata Anggito.

    Anggito menegaskan, dia tak pernah berjanji mewujudkan sederet permintaan Komisi Keuangan. "Saya hanya menerima usul," kata Anggito. "Usul itu diajukan persetujuannya di Badan Anggaran melalui pos anggaran transfer daerah."

    Dua hari berturut-turut setelah rapat itu, Komisi Keuangan mengundang rapat Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Mardiasmo. Rupanya, masih ada anggota yang belum puas. "Mereka mencari celah bagaimana agar usulnya bisa masuk," kata sumber Tempo.

    Tapi pemerintah tak mau didikte. Pos anggaran transfer daerah, yang dibidik sebagai pintu masuk alokasi Rp 2 triliun, lalu dirancang dengan formula khusus. Indeksasi besaran transfer ditentukan berdasarkan pendapatan daerah, kemampuan fiskal, dan berbagai indikator lain. Walhasil, tak bisa begitu saja disesaki tambahan Rp 2 triliun.

    Proposal Komisi Keuangan pun mental. Achsanul memaklumi penolakan itu. "Ya, sudahlah," katanya. Dirjen Perimbangan Keuangan Mardiasmo enggan berkomentar mengenai hal ini. Ketika dimintai konfirmasi oleh Tempo tentang persoalan ini, dia terus mengelak. "Nanti sajalah," katanya.

    l l l

    Selesai? Belum. Anggaran perubahan 2010 masih menyisakan masalah pelik. Pekan lalu, dalam sidang paripurna mengenai kebijakan makroekonomi tahun depan, Ketua Komisi IV Akhmad Muqowwam mempersoalkan kesemrawutan pembahasan anggaran. Bagi politikus Partai Persatuan Pembangunan ini, ribut-ribut alokasi Rp 2 triliun hanyalah riak kecil dalam proses penyusunan anggaran.

    Ada setumpuk persoalan sejenis yang menandakan ada kerancuan wewenang antara komisi dan Badan Anggaran. "Beda pandangan internal ini harus diselesaikan," kata Muqowwam.

    Beberapa komisi di dalam Dewan memang sedang riuh menyoroti Badan Anggaran. Alat kelengkapan Dewan ini dianggap menyerobot peran komisi dalam merancang anggaran. Terganjalnya pos Rp 2 triliun, misalnya, membuat Komisi Keuangan memanggil semua anggotanya yang ada di Badan Anggaran. "Seharusnya mereka memperjuangkan usul komisi di Badan Anggaran, tapi nyatanya tidak dilakukan," kata Eva Kusuma Sundari dari PDI Perjuangan.

    Eva menduga, sebagian anggota Badan Anggaran sengaja tak meladeni pengajuan bujet dari komisi teknis. Sebab, menurut Eva, tindakan ini akan mengurangi jatah yang biasanya diplot untuk Badan Anggaran. "Buktinya, banyak pos anggaran yang sudah jadi, bahkan sebelum komisi membuat keputusan," kata Eva.

    Perkara ini juga disoroti Fitra. Lembaga ini menemukan Rp 1,1 triliun dana belanja kementerian dan lembaga yang tak jelas peruntukannya. Dana ini, berikut penggunaannya, dibagi rata kepada sebelas komisi dan mitra kerja mereka. "Orientasinya seperti cuma bagi-bagi jatah, tidak pada prioritas program," kata Yuna. "Seperti memberikan cek kosong kepada Dewan."

    Pemerintah juga lemah. Menurut Yuna, eksekutif terlalu memaksakan mempercepat perubahan anggaran hanya dalam tempo sebulan sejak rancangan diajukan kepada Dewan. Waktu yang mepet ini juga merupakan salah satu poin kelemahan dalam Undang-Undang Susunan dan Kedudukan Dewan. Hal ini diperparah dengan pertarungan politik, yang menempatkan Sri Mulyani di tengah pusaran persoalan. Akibatnya, pembahasan APBN Perubahan semakin berlarut-larut. Anggaran terancam. Laju ratusan program di berbagai bidang menjadi taruhan.

    Ketua Badan Anggaran Harry Azhar Azis menolak anggapan lembaganya menyerobot lahan komisi teknis. Undang-Undang Susunan dan Kedudukan Dewan, menurut Harry, menugasi Badan Anggaran melakukan sinkronisasi keputusan anggaran di tingkat komisi. Buktinya, sisa dana optimalisasi penerimaan Rp 1,1 triliun dibagi-bagi kepada komisi. "Karena ternyata banyak kementerian dan mitra kerja komisi yang kebutuhannya lebih besar," ujarnya.

    Aroma kesimpang-siuran kian pekat. Pimpinan Dewan pun bukannya tak sadar. Priyo Budi Santoso, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, berjanji mengajak semua petinggi Senayan berembuk. Jika kerancuan ini tak segera diberesi, Yuna menyatakan, "Kami akan mengajukan uji materi atas Undang-Undang APBN Perubahan."

    Agoeng Wijaya

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/05/24/EB/mbm.20100524.EB133628.id.html

[Koran-Digital] Banyak Duduk Sakit Jantung

Banyak Duduk Sakit Jantung

BERILAH tempat duduk bagi orang yang lebih memerlukan saat menggunakan kendaraan umum. Tidak hanya mendapat amal baik, tapi juga berguna bagi kesehatan. Menurut penelitian bidang penyakit jantung dan pembuluh darah Fakultas Kedokteran Universitas Melbourne, Australia, banyak duduk berisiko terkena serangan jantung.

Seseorang yang tiap hari duduk sekitar 15 jam, baik di tempat kerjanya maupun dalam perjalanan, bisa memperpendek usia. Sebab, duduk lama mempengaruhi bertambahnya zat lemak, gula, dan proses keduanya dalam tubuh yang berakibat buruk bagi jantung. Walaupun seseorang itu giat berolahraga 30 menit setiap hari, kebanyakan duduk meniadakan manfaatnya. "Karena banyak duduk itu menyebabkan otot tak banyak berkontraksi, sedangkan kontraksi otot sangat diperlukan untuk proses metabolisme tubuh," ujar ketua tim peneliti, dokter David Durnsten, seperti dimuat Health-ABC Radio.

Dalam penelitian lain malah disebutkan, banyak duduk sama risikonya dengan dampak merokok bagi kesehatan jantung. Karena itu, menurut periset dari Pennington Biomedical Research Center Baton Rouge, Amerika Serikat, banyaklah bergerak dan kurangi duduk. "Makin sering berdiri semakin bagus buat metabolisme tubuh," ujarnya.

Masih berkaitan dengan bergerak,�British Journal of Sports Medicine menyebutkan empat jam sehari menonton televisi juga berbahaya bagi kesehatan jantung. Bukan perilaku menontonnya, melainkan duduk dan berbaring selama itu. "Setelah empat jam duduk atau dalam keadaan tak bergerak, termasuk berbaring, tubuh mulai mengirimkan sinyal bahaya," kata Elin Ekblom-Bak dari Karolinska Institute, Stockholm, Swedia.

Karena itu, baik menurut Durnsten maupun Bak, bikin teh ke dapur, berdiri di angkutan umum, serta mondar-mandir saat bertelepon dan rapat membantu mengurangi risiko tersebut. "Yang penting jangan mendiamkan otot tak bergerak dalam waktu lama agar jantung Anda tetap sehat," ujar dokter Durnsten.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/05/24/KSH/mbm.20100524.KSH133593.id.html

[Koran-Digital] Posisi Enak yang Merusak

Posisi Enak yang Merusak

KEGIATAN ahli tulang belakang Ronald M. Hendrickson dan Dr Coralee van Egmond belakangan ini sekilas terdengar lucu. Mereka berkeliling Asia Pasifik untuk mengkampanyekan posisi tidur. Ya, cuma tidur. "Tidur adalah proses aktif menjaga kesehatan," Coralee menjelaskan saat menjadi pembicara dalam "Healthy Sleep Seminar" di Jakarta, Senin pekan lalu.

Keduanya anggota pengurus Asosiasi Ahli Tulang Belakang Internasional (International Chiropractors Association/ICA). Seminar itu bagian dari rangkaian kegiatan ICA Asia Pacific Outreach Program yang juga dilakukan di Sydney, Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, dan Beijing. Mereka membahas soal posisi tidur yang kita anggap nyaman tapi justru membahayakan kesehatan. Bukan kebugaran yang diperoleh, melainkan serangan pada tulang belakang. Menurut Hendrickson, sedikitnya dua dari tiga orang memiliki keluhan atas kondisi tulang belakang. Nah, yang paling disepelekan orang, pemicu serangan tulang belakang ini adalah aktivitas tidur.

Menurut ahli tulang belakang dari Rumah Sakit Internasional Bintaro, Jakarta, dokter Peni Kusumastuti, 90 persen kelainan tulang belakang dipicu aktivitas fisik yang dianggap tidak membahayakan dan sudah menjadi kebiasaan, termasuk tidur. Dampak yang langsung terasa adalah kelainan tulang atau nyeri alih-rasa sakit yang menyebar ke bagian lain di luar pusat sakit.

Tidur yang salah terjadi jika posisinya memungkinkan tekanan berlebih di satu titik. Tekanan itu, dalam bahasa Coralee, akan mengganggu komunikasi saraf. Jika komunikasi saraf terganggu, proses tubuh mengembalikan kebugaran dan peremajaan sel saat tidur pun tidak lancar. "Dampaknya bisa gangguan kerja dari kaki sampai otak," ujar Coralee.

Terkait dengan kesehatan tulang belakang, Coralee menjelaskan, tidur yang benar harus merujuk pada prinsip kesegarisan tulang belakang dan integritas postur. Ini diperlukan untuk menjaga agar jajaran tulang tidak mengganggu jaringan saraf tulang belakang. Tidur sesuai dengan prinsip itu dalam prakteknya adalah posisi telentang dengan penyangga kepala yang pas, serta bantalan punggung yang memberikan beban tekanan rata. Posisi lain yang juga sesuai adalah miring dengan satu kaki menyilang.

Coralee menekankan, kebiasaan tidur buruk, yakni dengan posisi yang memberikan beban tidak seimbang pada tulang belakang, sama saja dengan "menabung" gangguan kesehatan. Posisi salah, misalnya, tidur di kursi dengan posisi duduk, tidur meringkuk, tidur tengkurap dengan kepala tertekuk atau menoleh, atau tidur dengan bantal terlalu tinggi.

Gangguan kesehatan akibat posisi tidur itu pernah diderita Alit Setiawan, 30 tahun, karyawan swasta di Jakarta. Dia paling suka tidur dalam posisi tengkurap dengan kepala menoleh. Kerap juga posisi leher tertekuk dengan bantalan yang terlalu tinggi karena tertidur saat membaca.

Buah dari kebiasaan itu, Alit menderita nyeri punggung dan sakit saat menggerakkan leher. "Dua hari sembuh sendiri, tapi jadi sering nyeri kalau ada benturan sedikit," katanya. Jika sedang kambuh, derita tambahannya adalah pusing. Namun Alit tidak menganggap hal itu serius, karena dia pikir itu cuma "salah bantal".

Padahal, dari tekanan berlebih di satu titik akibat posisi tidur salah, secara akumulatif akan mengganggu pergerakan sendi. Lambat-laun bantalan tulang rusak atau keluar dari posisinya sehingga menekan saraf-biasa disebut saraf kejepit. "Aliran saraf terganggu," kata ahli tulang belakang dari Ramsay Spine Center Rumah Sakit Internasional Bintaro, dokter Luthfi Gatam. Gangguan kesehatan yang lebih serius pun muncul.

Tulang belakang manusia yang memanjang dari leher sampai ke selangkangan itu memang bukan sekadar penyangga tubuh. Dalam susunan 33 ruas tulang itu terangkai juga saraf yang mempengaruhi aktivitas bagian tubuh lain. Saraf di tulang bagian ini dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan sepasang saraf ekor.

Dari catatan Klinik Citylife Chiropractic di Jakarta, gangguan kesehatan akibat saraf beragam: sakit kepala terutama di sekitar tengkuk dan dahi, sakit kepala sebelah, sakit pinggang menjalar sampai ke kaki, kesemutan serta baal yang berlangsung lama dan terus-menerus, serta nyeri di sekitar bahu dan bahu bagian belakang, juga di lengan dan kaki. Akibat yang juga berbahaya adalah sakit di tubuh yang tidak ada diagnosis penyakitnya.

Semua itu berawal dari gangguan pergerakan salah satu sendi tulang belakang sehingga mengakibatkan iritasi sistem saraf. Iritasi ini akan menyebabkan penurunan suplai neuron ke jaringan dan organ sehingga fungsinya tidak optimal (Vertebral Subluxation Complex). Bila tak segera ditangani, "Kinerja saraf bisa lumpuh," Luthfi, yang juga Ketua Umum Forum Masyarakat Skoliosis Indonesia, menjelaskan.

Rasa nyeri ini tidak bisa disepelekan. Adhi Budi Satria, 44 tahun, misalnya, sempat tak bisa bergerak. "Awalnya kesemutan terus, nyeri di pinggang sampai seperti lumpuh," kata pengusaha agen mesin pengepakan di Jakarta ini. Selain tidur dengan posisi asal, Adhi senang sekali menyetir mobil dengan posisi duduk agak miring ke kanan. Ternyata kebiasaan itu pelan-pelan merusak posturnya.

Semua dampak kebiasaan buruk yang sepele itu punya andil besar merusak jaringan tulang belakang, dan berujung pada gangguan saraf. Tapi, karena cenderung disepelekan, dan orang baru tersadar setelah deraan sakit mulai mengganggu, akibatnya pun parah. Tidak mengherankan bila prevalensi kelainan tulang belakang di Indonesia cukup tinggi. Dari catatan Luthfi, 80 persen penduduk sedikitnya mempunyai keluhan atas tulang belakang pada periode usia sampai 50 tahun.

Sejauh ini penanganannya dilakukan dengan pemberian obat, terapi, sampai operasi. "Kemungkinan operasi hanya sekitar 10 persen," katanya. Di luar itu, sejumlah klinik kesehatan juga memberikan tindakan koreksi chiropractic, untuk menormalkan susunan tulang dan sendi sehingga memungkinkan tubuh menyembuhkan diri sendiri. "Posisi tubuh yang benar itu gampang dilakukan dan sangat penting," kata Coralee.

Harun Mahbub


Tip Menjaga Postur

Di rumah

  • Hindari kegiatan membaca di tempat tidur jika tak ada bantal yang bisa menyangga punggung dengan benar. Sulit mempertahankan posisi yang benar untuk tulang belakang di posisi ini sehingga posisi leher akan berada di depan pundak Anda.
  • Usahakan kekerasan matras sesuai dengan tubuh. Saat bangun dari tempat tidur, miringkan tubuh, tekuk kedua lutut ke arah dada, dan turunkan kedua kaki ke lantai.
  • Angkat tubuh dengan bantuan lengan. Dengan demikian, leher dan pinggang tetap pada posisi tegak serta mencegah tarikan otot yang tidak perlu.
  • Jangan tidur dengan satu tangan atau kedua tangan di atas kepala.
  • Pilih bantal yang sesuai dengan leher dan lebar pundak Anda. Kalau kebanyakan tidur dengan posisi miring, pilih bantal selebar bahu sehingga leher dalam keadaan lurus.

Di Kantor

  • Memilih kursi dan meja sesuai dengan tinggi badan.
  • Duduk tegak. Telinga, pundak, dan pinggul dalam satu garis lurus.
  • Relaksasi duduk. Bangun dan lakukan peregangan setiap 30-45 menit.
  • Monitor setinggi pandangan mata.
  • Pergelangan tangan tidak dalam keadaan tertekuk.
  • Hindari pekerjaan dengan posisi tangan di atas kepala untuk jangka waktu lama.
  • Mengangkat barang sesuai dengan kekuatan. Tekuk lutut dan selalu angkat barang dengan mendekatkan ke tubuh.

Di Kendaraan

  • Duduk tegak dengan memperhatikan sentral gravitasi tubuh.
  • Menggunakan sabuk pengaman untuk menghindari luka berulang yang bisa disebabkan pengereman berkali-kali di kemacetan yang mendorong gerakan leher berulang-ulang.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/05/24/KSH/mbm.20100524.KSH133592.id.html

[Koran-Digital] Mengejar Sampai Stuttgart

  • Mengejar Sampai Stuttgart

    Stuttgart, Oktober 2000. Nunus Supardi, mantan Direktur Purbakala, masih ingat bagaimana warga kota itu begitu antusias menyambut pelelangan harta karun dari Indonesia. Ribuan porselen antik dari kapal Cina Dinasti Qing (Mancuria) bernama Tek Sing yang karam pada 1822 di Selat Gelasa, antara Bangka dan Belitung, dilego kepada masyarakat luas.

    Berbulan-bulan sebelum acara, masyarakat Stuttgart sudah diajak berimajinasi. Sebuah replika besar kapal Tek Sing dibuat dan dipasang di tengah keramaian Stasiun Stuttgart. Der Spiegel, majalah Jerman ternama, "memanaskan" suasana dengan menyebut Tek Sing "Titanic abad ke-19".

    "Kami datang dari Jakarta. Bersama saya, ada Dr Syafri Burhanudin dari Departemen Kelautan; Pak Beny Mamoto dari kepolisian; dan Ibu Widiati, ahli keramik Kementerian Kebudayaan."

    Mereka adalah tim pemburu yang dikirim negara. Awalnya, menurut Nunus, adalah surat dari KBRI Australia ke Departemen Luar Negeri yang diteruskan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan. Surat itu berisi laporan Australian Federal Police, yang menyatakan ada 43 kontainer berisi porselen antik Cina dari perairan Belitung yang masuk ke Pelabuhan Adelaide, tanpa surat izin pemerintah Indonesia.

    Pemerintah bergerak cepat. Insting pemerintah waktu itu: Michael Hatcher-"perompak harta karun"-beraksi lagi. Pada 1985-1986, Hatcher menjarah isi perut kapal Geldermalsen milik VOC yang tenggelam di Karang Heluputan, Tanjung Pinang, pada 1750. Ia mendapatkan 126 batangan emas lantakan serta 160 ribu keramik Dinasti Ming (1368-1644) dan Qing (1644-1911). Pada 1986, barang itu dilepas di Balai Lelang Christie, Amsterdam, dan jumlah yang didapat sampai 17 juta euro. Pemerintah Indonesia sama sekali tidak kebagian jatah.

    Pemerintah tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya. Wakil pemerintah segera terbang ke Adelaide, sayang di sana 37 kontainer telah dikirim ke Jerman. Pemerintah mendapat kabar bahwa di Stuttgart, keramik-keramik itu bakal dilelang oleh Balai Lelang Nagel. Pemerintah mengabari Balai Lelang Nagel bahwa barang-barang itu ilegal.

    Mendengar lelang bisa gagal, pihak Hatcher berusaha melobi pemerintah Indonesia. Hatcher mengirim ahli hukumnya, Peter Church, ke Jakarta. "Kami berdebat sengit dengan Peter Church," kata Nunus. Meskipun demikian, lelang tak bisa digagalkan karena pemerintah Stuttgart telah telanjur berpromosi besar-besaran. Akhirnya disepakati bahwa Indonesia harus diberi jatah. Disepakati pembagian uang 50-50 persen dari barang yang laku dilelang. Dan 1.500 porselen terbagus bisa dibawa pulang.

    "Persoalannya, porselen dan keramik sudah masuk katalog dan sudah terbuka untuk dibeli publik," kata Nunus. Sebagai konsekuensinya, tim Indonesia tidak bisa begitu saja mengambil porselen yang diminati, tapi harus ikut menjadi peserta lelang.

    Nunus ingat bagaimana ia dan anggota tim lainnya terpaksa menjadi bidder. Lelang itu diadakan di Jalan Rosensteinstr. Waktu itu musim dingin. Di sebuah tanah lapang didirikan tenda superbesar. Setiap keramik secara visual dipresentasikan dengan menarik di dua layar raksasa. Porselen itu dilelang per satuan atau per jenis, bukan gelondongan. Para pembeli tidak diharuskan menaruh uang jaminan. Menurut Nunus, masyarakat Stuttgart begitu antusias bersaing memilih barang yang ditawarkan, mulai cepuk, mangkuk, tungku, teko, pasu, vas, tempat lilin, sendok, cangkir, tempayan, tempat jahe yang rata-rata berglasir biru-putih dengan berbagai motif bunga: magnolia, lotus, dan daun bambu, sampai patung kilin singa dari granit.

    "Lelang berlangsung dua minggu dari pukul 9 pagi sampai pukul 2 pagi. Peminat bisa mem-bid melalui Internet dan telepon," kata Nunus. Katalog lelang tebal sekali: 1.020 halaman. Di situ sekitar 16.100 barang diberi deskripsi dalam bahasa Jerman dan Inggris.

    l l l

    Yang juga membuat masyarakat Stuttgart bergairah menghadiri lelang adalah adanya informasi sejarah yang lengkap tentang asal-usul karamnya Tek Sing. Untuk keperluan lelang, Michael Hatcher dan sejarawan Nigel Pickford, misalnya, menerbitkan buku khusus tentang Tek Sing.

    Pada 14 Januari 1822-diungkapkan Hatcher-kapal Tek Sing berangkat dari Pelabuhan Kota Amoy, Cina (kini bernama Hsmien), ke Batavia. Kapal itu penuh porselen. Sasaran pembeli mereka adalah bangsawan Jawa atau pedagang Inggris, Swedia, dan Prancis di Batavia. Kapal itu juga memuat 1.600 penumpang asal Fujian yang ingin bekerja di perkebunan gula di Jawa. Masyarakat Fujian dikenal miskin dan tidak sepenuhnya loyal kepada Dinasti Mancuria yang berkuasa sejak 1644. Mereka lebih condong kepada dinasti sebelumnya, Dinasti Ming. Tujuan mereka ke Jawa juga karena di Jawa banyak komunitas Cina yang memegang teguh tradisi Ming dan akan membantu mereka.

    Hatcher menulis bukunya berdasarkan catatan saksi mata kapten Inggris bernama James Pearl yang menyelamatkan awak Tek Sing. James Pearl adalah pedagang opium. Dari Kolkata, India, pada 1822, ia memimpin kapal bernama Indiana membawa opium yang hendak dijual ke Batavia. Ia berhenti di Teluk Bayur, Padang. Melewati Padang, ia melihat burung albatross beterbangan. Memasuki Selat Sunda, ia sempat menikam hiu-hiu. Memasuki perairan Selat Gaspar (dekat Pulau Gelasa) antara Bangka dan Belitung, ia terkejut karena ia menyaksikan pecahan-pecahan peti, bambu, payung mengambang, dan orang-orang Cina telanjang di sana-sini dalam kondisi mengenaskan mengapung di laut.

    Sekitar 95 orang bisa diselamatkan Kapten James Pearl. Salah satunya bernama Baba Chy. Ia adalah anak seorang pedagang Cina kaya di Batavia. Dari keterangannya itulah bisa diperoleh informasi ribuan pelarian dari Fujian di kapal itu membawa istri dan anak-anak yang masih kecil, dan juga harta benda.

    Nunus ingat bagaimana tim Indonesia sadar bahwa mereka akan bersaing keras dengan warga Stuttgart yang tertarik membeli karena unsur tragedi itu. Yang kebagian menentukan adalah arkeolog Widiati. Ia ditugasi menyeleksi barang mana yang paling bagus dari tiap jenis yang dilelang. Widiati ingat tiap malam ia tidak bisa tidur. "Saya belajar terus untuk besok," dia mengenang. Benar, saat lelang, tim Indonesia berjuang keras agar barang-barang porselen terbaik tidak jatuh ke tangan pembeli lain. "Kami terus mengacung, untuk mendapatkan barang yang dipilih sampai enggak ada yang nawar," kata Nunus.

    Menurut Widiati, sesungguhnya piring, teko, tempat pembakaran dupa, dan keramik di lelang Stuttgart itu banyak beredar di pasar umum. Namun, karena di baliknya ada kisah yang dramatis, harganya menjadi istimewa. Beberapa guci, vas, dan gentong yang dilelang malah dibiarkan tetap tertempeli binatang mati dan koral-koral. Juga beberapa piring yang rekat karena karang atau piring beserta isinya yang sudah membatu ada yang tetap tidak dibersihkan. "Ini justru unik, menandakan cara memperolehnya dari dasar laut, bukan dari warisan," ujar Widiati, yang sekarang Kepala Subdirektorat Pengendalian Pemanfaatan Peninggalan Bawah Air Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.

    Apakah semua porselen yang terbaik bisa dibawa balik ke Indonesia? Mungkin juga tidak. Sebab, kata Pascal Kainic-seorang Prancis, konsultan pengangkatan harta karun kapal karam yang malang-melintang puluhan tahun di perairan Indonesia-lelang Stuttgart sesungguhnya sudah bocor terlebih dulu. "Saya hadir di lelang Stuttgart itu dan bertemu dengan kolega Michael Hatcher." Pascal bercerita, ia mendapatkan informasi bahwa yang dilelang sesungguhnya adalah barang sisa-sisa. "Yang baik-baik telah dijual Hatcher sendiri ke kolektor. Bahkan saya dengar Hatcher sengaja memecah beberapa keramik yang sebenarnya untuk dilelang agar harga keramik yang dijualnya sendiri itu makin tinggi."

    Benar atau tidak informasi Pascal, lelang di Stuttgart itu membuktikan bahwa barang kapal karam di perairan Indonesia memukau publik Eropa. Uang pembagian lelang Stuttgart sendiri, menurut Widiati, sekitar 2 juta mark Jerman. "Itu para atasan yang tahu," katanya. Menurut Nunus, tugas tim Stuttgart hanya membawa pulang porselen pilihan. "Setelah kami pulang, mereka mentransfer uang itu ke Departemen Kelautan."

    Seno Joko Suyono

http://majalah.tempointeraktif.com//id/arsip/2010/05/24/LU/mbm.20100524.LU133635.id.html

[Koran-Digital] Balada Lelang Lima Menit

  • Balada Lelang Lima Menit

    Karena tak ada penawar, lelang saya nyatakan ditutup." Tok, tok, tok! Palu diketuk keras oleh pejabat lelang Iraningsih.

    Itulah antiklimaks suasana lelang harta karun abad ke-10 dari perairan Laut Jawa di wilayah Cirebon. Lelang di ballroom Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 5 Mei lalu itu hanya berlangsung lima menit.

    Lelang itu sama sekali tak dihadiri kolektor keramik. Kursi calon pembeli kosong. Kebanyakan hanya wartawan yang datang. "You see," kata Luc Heymans seraya tersenyum kecut. Pria asal Belgia ini adalah Direktur Cosmix Underwater Research Ltd., perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk mengangkat barang-barang kapal karam Cirebon itu.

    Adi Agung, Direktur Utama PT Paradigma Putra Sejahtera, yang menjadi mitra Cosmix, masih berusaha menghibur diri. "Meski gagal, saya bangga karena telah menempuh cara yang legal. Saya masih optimistis lelang kedua, dan ketiga, ada pembeli. Dan harganya tak turun."

    Tapi harapan Adi itu mungkin tinggal harapan. Minggu ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, setelah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan kebudayaan, UNESCO, menyatakan pemerintah akhirnya membatalkan penjualan artefak itu. Kemungkinan besar tak ada lagi lelang jilid kedua, apalagi ketiga. "Profit tidak lagi menjadi tujuan utama kita," kata Fadel, yang sebelumnya menggebu-gebu soal lelang.

    l l l

    Perubahan sikap Fadel itu membingungkan Adi Agung. "Lelang ini saya tunggu lebih dari enam tahun," kata lelaki yang selalu berpenampilan klimis itu. Lelang harta Cirebon, menurut dia, adalah peristiwa bersejarah. Pemerintah berani membuat keputusan penting untuk menertibkan penjarahan benda-benda kapal karam di perairan Indonesia yang marak.

    Selama ini, menurut Adi, pengangkatan harta karun adalah bisnis yang kejam. "Tidak ada peraturan tegas. Wilayahnya abu-abu," kata lelaki yang sehari-hari berbisnis penyewaan kapal itu. Banyak pemain melakukan pengangkatan tanpa izin atau dengan izin palsu. "Semua memiliki beking masing-masing." Akibatnya, pemerintah sering kecolongan. Penyelam kawakan Michael Hatcher, misalnya, mampu menggondol emas lantakan bangkai kapal Geldermalsen di perairan Heluputan, Tanjung Pinang, Riau. Juga pemburu lain seperti Tilman Walterfang, yang membawa harta dari kapal karam Dinasti Tang di perairan batu Hitam, Belitung Timur.

    Kita ingat, "hitamnya dunia kapal karam" itu juga pernah memakan korban arkeolog muda Indonesia, Santoso Pribadi. Pada Agustus 1986, Santoso yang akrab dipanggil Ucok itu menjadi bagian tim peneliti penyelam yang dibentuk negara untuk menyurvei perairan Heluputan, Riau. Tim ini dibentuk setelah kasus Hatcher mencuat. Lulusan Arkeologi Universitas Indonesia ini menyelam. Ia menemukan keramik, lalu menyelam lagi, tapi tak muncul-muncul. Ada spekulasi ia dibunuh.

    "Maka lelang itu perlu, karena lelang tempat menjual artefak yang diangkat dengan jalur resmi. Di luar lelang berarti melanggar hukum," kata Adi Agung.

    Adi menjelaskan, titik Cirebon diperolehnya dari nelayan pada 2003. "Titik itu sesungguhnya sudah diketahui nelayan sejak 2001. Saya tidak mengingkari ada kemungkinan nelayan awalnya sudah mengambil secara ilegal," katanya. Dia memperoleh izin pengangkatan dari Panitia Nasional Barang Muatan Kapal Tenggelam pada 2003. Sekitar 30 penyelam asing dan lokal dilibatkannya dari akhir April 2004 hingga awal Oktober 2005.

    Proses sempat tersendat karena Adi dilaporkan mempekerjakan tenaga asing. "Itu komplain kompetitor," katanya. Adi kemudian bisa membuktikan tak menabrak aturan hukum. Adi menjamin pengangkatan yang ia lakukan berlangsung ilmiah dan sesuai dengan prosedur. "Di kapal, semua temuan diberi label (tanggal diangkat dan grid lokasi). Kemudian, saat harta karun dibawa dari Cirebon ke Jakarta, dikawal anggota TNI Angkatan Laut dan pengawas dari pemerintah."

    Harta itu disimpannya di area pacuan kuda Pamulang, Tangerang, milik Letnan Jenderal Suharjono. Sebanyak enam bangunan kandang kuda yang disewanya US$ 15 ribu setahun ia sulap menjadi ruangan penyimpanan. Di sana dilakukan proses desalinasi. Seluruh artefak direndam di kolam-kolam buatan. Setelah kadar garamnya dinyatakan nol, dilakukan klasifikasi melibatkan pakar keramik konsultan pemerintah, arkeolog Profesor Naniek Harkatiningsih.

    Harta dari kapal karam yang diduga dibawa kapal Sriwijaya itu beraneka ragam. Ada ribuan keramik Cina dari zaman Five Dynasties (907-960). Ada cermin abad ke-10 yang kembarannya hanya ada separuh di Museum Sichia Cina. Ada batu-batu kristal, gelas berukirkan huruf Arab Kufi, pecahan rubi yang diperkirakan dari Dinasti Fatimiyah, patung kecil manusia berkepala anjing, peralatan upacara agama Buddha, dan cepuk-cepuk berisi candu.

    "Yang terbaik kami ambil untuk koleksi negara, di Museum Samudraraksa, Magelang, Jawa Tengah, dan Museum Nasional," kata Surya Helmi, Direktur Peninggalan Bawah Air Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Di kapal itu, misalnya, ditemukan sepasang gagang golok emas. "Satu kami serahkan ke negara," ujar Adi. Helmi percaya, selama di gudang, tak ada kebocoran. "Untuk membuka gudang harus dengan tiga kunci. Satu kunci di tangan Kementerian Budaya, kunci lain di Departemen Kelautan dan Pak Adi."

    Mengapa benda-benda itu baru bisa dilelang pada 2010? Itu karena Menteri Keuangan Sri Mulyani baru meneken aturan tentang tata cara lelang hasil pengangkatan kapal tenggelam pada Desember 2009.

    l l l

    Adi Agung mengakui yang memberatkan calon pembeli lelang adalah prasyarat menaruh deposito Rp 154 miliar. "Itu peraturan Menteri Keuangan," katanya. Menteri Keuangan menetapkan peserta lelang harus mendepositkan uang 20 persen dari harga yang ditawarkan. Pemerintah menjual seluruh temuan Cirebon dengan harga dasar US$ 80 juta atau sekitar Rp 720 miliar.

    Meski gagal di lelang pertama, Adi optimistis lelang kedua, atau ketiga, bisa meraih pembeli. "Pemerintah Singapura berencana membuat museum khusus arkeologi bawah air. Mereka sudah punya koleksi keramik Dinasti Tang (618-907) yang dibeli adik ipar Lee Kuan Yew dari jarahan Tilman di perairan Batu Hitam." Adi memperkirakan mereka mau membeli keramik dari Five Dynasties karena dengan begitu akan bisa memiliki seri koleksi dinasti secara berurutan. "Museum Cina dan Taiwan juga tengah hunting."

    Namun Amir Sidharta, pemilik Balai Lelang Sidharta, menyatakan ketentuan mengenai jaminan deposit itu bila tak direvisi akan tetap membuat lelang gagal. Boedi Mranata, Ketua Himpunan Keramik Indonesia, sependapat. "Tidak lazim di lelang barang seni harus menyetor uang muka dulu. Lelang harta karun Cirebon tak bisa disamakan dengan lelang proyek," katanya.

    Di mata Boedi, lelang pada 5 Mei lalu adalah lelang dagelan. Menurut dia, sekitar sebulan sebelum lelang digelar, panitia seharusnya mengirimkan katalog kepada calon peserta yang berpotensi membeli. Panitia juga biasanya akan intensif menghubungi calon peserta lewat telepon atau surat elektronik. Tapi semua itu tak dilakukan. "Promosi juga sama sekali tak ada," kata George Gunawan, Ketua Asosiasi Balai Lelang Indonesia.

    Setelah itu, seharusnya ada masa preview, setiap calon peserta bisa bebas melihat-lihat benda yang akan dilelang. "Calon peserta biasanya membawa ahlinya sendiri-sendiri untuk menilai benda-benda itu," kata Boedi. Namun, untuk lelang Cirebon ini, gudang Pamulang tertutup bagi yang tidak membayar deposit. "Bagaimana bisa berminat bila tidak melihat barangnya terlebih dahulu?" komentar Sugiharto Budiman, kolektor keramik dari Surabaya.

    Selain soal harga, Boedi menyoroti model lelang satu lot atau satu paket keseluruhan. Menurut dia, sampai sekarang belum pernah ada barang-barang dari kapal karam yang dilelang gelondongan. Semuanya dilelang per item atau per pieces. "Satu pieces bisa berisi puluhan barang jenis yang sama." Boedi juga mempertanyakan harga limit lelang yang dinilai terlalu tinggi.

    Tapi, sebagai konsultan pemerintah yang turut menilai harga, arkeolog Naniek Harkatiningsih tak sependapat. Menurut dia, dari kacamata arkeologis, harga itu masih terlalu rendah. "Barang Five Dynasties itu langka. Dinasti itu periodenya pendek (907-960 Masehi). Barangnya tidak banyak ditemukan. Harga pembandingnya tidak ada," katanya.

    Menurut Naniek, Five Dynasties adalah dinasti yang pertama kali memperkenalkan porselen berlapis glasir berwarna hijau. Umumnya keramik dinasti Tiongkok, seperti Yuan, Ming, dan Qing, berwarna dasar biru. Sedangkan keramik hijau, menurut peneliti utama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional itu, dibuat pada masa Kerajaan Wu-Yue di Provinsi Zhejiang, Cina. Pada masa ini biasanya hanya dibuat barang-barang untuk tribute atau hadiah. "Cuma kita tidak tahu persisnya apakah barang-barang itu dibuat khusus bagi raja-raja atau masyarakat biasa," ujarnya.

    Pada 2007, seusai seminar para ahli arkeologi Asia di Singapura, pernah Naniek mengajak beberapa arkeolog dari Cina bertandang ke gudang Pamulang. "Mereka sangat excited. Mereka bilang di museum-museum Cina sendiri tak ada. Maka sepantasnya lebih mahal," katanya.

    Boedi Mranata mengakui, dari segi sejarah, keramik Five Dynasties memang langka. Tapi, menurut dia, di pasar lelang, barang Five Dynasties "belum panas" karena dari segi estetika masih kalah bagus dengan porselen dinasti lain. Saat ini, tutur Boedi, yang sedang menjadi primadona kolektor di dunia adalah keramik peninggalan Dinasti Ching (abad ke-17). "Apalagi kalau porselen itu ada stempel kerajaannya, pasti sangat mahal."

    Lagi pula, Boedi menambahkan, harga barang-barang keramik dari laut tak pernah lebih tinggi daripada barang-barang dari darat. Harganya hanya sepertiga harga barang darat. Soalnya, barang laut itu biasanya kerepes atau menipis. "Barang-barang laut Cirebon itu, misalnya, glasirnya sudah memudar atau hilang," ujarnya.

    Menurut Boedi, pemerintah mestinya mengikuti jejak Vietnam, yang sukses melelang ribuan porselen dari empat kapal yang karam di perairannya-Hoi An, Bin Thuan, Ca Mau, dan Vung Tau. Kapal-kapal itu dulu dalam perjalanan dari Cina ke Batavia. Meski nasionalismenya tinggi, pemerintah Vietnam menggaet investor asing dan menjual, lewawt balai lelang internasional seperti Sotheby's, Christie's, dan Butterfield & Butterfield yang memiliki database kolektor dunia.

    "Barang-barang itu dijual per pieces, bukan satu paket. Lelang Butterfield, misalnya, berhasil banget. Keramik asal laut Vietnam menjadi sangat top. Mengapa kita tidak meniru jalan lain yang berhasil?" kata Boedi.

    Kesalahan utama pemerintah, menurut Boedi, adalah tidak menjual secara benar. Boedi berpendapat, pemerintah bisa melakukan pelelangan ulang tapi dengan cara yang mematuhi standar lelang internasional. "Pemerintah bisa menggandeng Sotheby's atau Christie's ke Jakarta, dan di situ biarlah harga terbentuk secara obyektif," katanya.

    l l l

    Namun keinginan kolektor keramik itu tampaknya sulit terwujud. Pekan lalu, melalui Menteri Kelautan dan Perikanan, pemerintah telah menetapkan tidak melanjutkan lelang. Artefak-artefak itu bakal disimpan di museum maritim yang akan dibangun.

    Saat ini, tutur Menteri Fadel, sedang dicari ide kreatif mencari uang untuk membangun museum yang tak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Fadel tampak mencari jalan dengan menemui Duta Besar Cina. Ia menawarkan kerja sama mendirikan museum, di Indonesia dan Cina. Namun tampaknya ini masih sebatas gagasan. Soalnya, Fadel belum bisa menjelaskan secara terperinci sumber dana yang digunakan. "Masih dikaji," ujarnya.

    Pemerintah juga agaknya menaati nasihat UNESCO agar tetap membiarkan barang-barang kapal karam sebagai cagar budaya di bawah laut. Namun, bagi banyak kalangan, itu tidak menjamin barang tetap aman. "Saya yakin barang akan habis. Nelayan dan sindikat yang mengambil secara ilegal makin banyak," kata Boedi.

    Juga dikhawatirkan, dengan tidak adanya lelang, banyak pemain besar akan kembali berani memilih pengangkatan dengan menyogok oknum pemerintah. Direktur Operasional Cosmix Luc Heymans sendiri mengeluh, untuk pengangkatan harta Cirebon, telah mengeluarkan US$ 10 juta atau sekitar Rp 92 miliar. "Padahal, kalau memakai jalur pintas, saya tak akan mengeluarkan uang sebanyak itu. Oleh teman-teman, saya disebut stupid investor," katanya seraya tertawa mengejek dirinya sendiri.

    Menurut Luc, biaya yang besar itu juga disebabkan oleh proses perizinan di Indonesia yang rumit. Terlalu banyak instansi pemerintah yang terlibat. "Di Filipina, izin pengangkatan hanya dari museum nasional karena barang dianggap barang seni." Walhasil, menurut Luc, investasi pencari harta karun di Indonesia sangat tinggi dan belum tentu mendapat hasil. "Apalagi pemerintah Anda selalu tidak mau mengeluarkan biaya, nol."

    Fadel sendiri mengatakan pengusaha yang secara resmi telah mengangkat barang muatan kapan tenggelam akan diberi ganti rugi. "Pemerintah akan bayar," ujarnya.

    Tapi, sebagai catatan, selain PT Paradigma Putra Sejahtera dan Cosmix, masih ada perusahaan lain yang telah mengangkat barang dari sejumlah titik di laut Indonesia dan menyimpannya di gudang masing-masing. Salah satunya milik pengusaha Budi Prakoso dari PT Tuban Oceanic Research & Recovery. Di gudangnya, di Sawangan, ia menyimpan ribuan keramik Dinasti Yuan yang diangkatnya dari kapal tenggelam di perairan Karang Cina, Belitung, pada 2001. Ia telah mendaftarkan barang-barangnya masuk program lelang pemerintah.

    Menurut Budi, seharusnya, setelah lelang barang Cosmix dan Paradigma Putra Sejahtera, tahun ini menyusul dilelang barang-barang temuannya. "Saya tunggu lelang ini selama tujuh tahun. Lelang harus tetap ada. Mekanisme lelang kemarin yang salah kaprah yang harus diganti."

    Nurdin Kalim, Pramono, Ismi Wahid, SJS

http://majalah.tempointeraktif.com//id/arsip/2010/05/24/LU/mbm.20100524.LU133633.id.html

[Koran-Digital] Pemburu Harta Alas Samudra

  • Pemburu Harta Alas Samudra

    BAK menjaga kitab kuno, Andi Asmara memegang buku tebal mirip ensiklopedia itu berhati-hati. Ditulis dalam aksara Cina, buku sebesar laptop 14 inci itu memakai judul Inggris: The Atlas of Shipwrecks & Treasure. "Buku ini hanya dimiliki terbatas komunitas harta karun dunia," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Indonesia itu kepada Tempo, Kamis pekan lalu.

    Dua lemari tiga meteran penuh buku terpajang di ruang kerja Andi. Sebagian besar perihal harta karun, berbahasa Cina. Lainnya majalah dan kliping koran. Ia lalu membuka The Atlas di atas meja, menunjuk peta Indonesia. Di situ ada puluhan kotak dan lingkaran warna-warni. "Ini tempat kapal terkubur, semua ada 863 titik," katanya. "Yang kotak sudah diangkat, yang lingkaran belum."

    Membangun bisnis di bidang properti, Andi mulai tertarik pada usaha pengangkatan muatan kapal tenggelam pada 1985. Ketika itu bisnis pengangkatan harta karun mulai bergairah, setelah dua tahun sebelumnya United Sub-Sea Services Ltd. sukses mengangkat barang-barang berharga dari perairan Riau dan Bintan. Dipimpin Michael Hatcher, pemburu harta kelas kakap dari Australia, United mendapatkan harta senilai US$ 17,1 juta-sekitar Rp 170 miliar dengan kurs sekarang.

    Andi mendirikan PT Lautan Mas Bhakti Persada pada 1990. Perusahaan ini membuat "debut" dengan menyelami perairan Ternate, Tidore, Papua, hingga Flores. Semua didasarkan pada informasi nelayan. Operasi pertama ini kosong. Lautan Mas baru memperoleh buruannya sembilan tahun setelah didirikan. Dari perairan Blanakan, Subang, Jawa Barat, perusahaan ini mengumpulkan 13 ribu keping keramik Siam dan Vietnam, keramik Cina Dinasti Song, dan keramik Dinasti Yuan. Semua barang baheula itu kini dititipkan di gudang PT Tuban Oceanic & Recovery milik kolega Andi, Budi Prakoso.

    Kepada Tempo, Andi mengatakan menjadikan The Atlas of Shipwrecks & Treasure sebagai panduan. Menurut dia, buku itu dibeli dengan perjanjian untuk menyimpan rahasia. Karena itu, ia tak bersedia menyebutkan penulis atau penerbit buku itu. "Kalau semua orang tahu, repot dong bisnis saya," ujarnya.

    Toh, sebetulnya, The Atlas buku biasa saja. Dari penelusuran di Internet, edisi bahasa Inggris buku itu dijual di situs Amazon.com. Buku baru dijual US$ 68, yang bekas dihargai sepersepuluhnya. Ada pula edisi koleksi, yang dijual US$ 41. The Atlas disusun oleh Nigel Pickford, arkeolog spesialis kapal karam kuno asal Inggris yang bekerja sama dengan Michael Hatcher mengangkat Kapal Vung Tau dari perairan Vietnam.

    Seperti Andi menjaga "rahasia" The Atlas, bisnis harta karun ini penuh teka-teki. Satu hal yang pasti: kehadiran sang pemburu, Michael Hatcher.

    l l l

    PERAIRAN Indonesia sarat harta karun. Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan, ada 463 titik lokasi kapal yang karam pada 1508 sampai 1878. Dari jumlah itu, baru 186 titik yang telah diketahui dengan pasti. Itu pun belum semuanya disurvei. Sejak masa silam, perairan Nusantara dilintasi berbagai kapal yang berlayar dari Cina, Vietnam, Thailand, Borneo, India, lalu menuju Jawa. Kapal tenggelam karena menabrak karang, diterjang badai, atau kalah diserang.

    Berabad kemudian, muatan kapal itu menjadi bisnis menggiurkan. Setelah kisah sukses Hatcher mengangkat muatan The Nanking Cargo, pemain lokal bermunculan. Di antaranya Hutomo Mandala Putra, Budi Prakoso, Herman Spiro, dan Andi Asmara. Selain Hutomo alias Tommy, keluarga Soeharto lainnya tertarik. Ada Siti Hardijanti atau Tutut, Ari Sigit, juga Sudwikatmono.

    Selain menggiurkan, menurut Adi Agung, Direktur Utama PT Paradigma Putra Sejahtera, yang bekerja sama dengan Cosmix Underwater Research Ltd. mengangkat barang-barang dari kapal karam di Cirebon, bisnis ini kejam. Sebab, tidak ada peraturan tegas yang mengaturnya. "Wilayahnya abu-abu," katanya. Menurut dia, banyak pemain melakukan pengangkatan tanpa izin atau menggunakan izin palsu. "Semua memiliki beking masing-masing."

    Bisnis harta karun juga unik: membutuhkan modal besar, berisiko tinggi, tapi juga menjanjikan keuntungan besar. Dengan prosedur resmi, memang waktu balik modal sulit diprediksi. Sebab, pengusaha tak boleh menjual sebiji pun harta karun yang merupakan kekayaan negara. Barang hanya boleh dijual bersama pemerintah, dan hasilnya dibagi rata.

    Menurut sumber Tempo di Kementerian Kelautan, persaingan keras terjadi di antara para pemain bisnis harta karun. Pemainnya sebenarnya tak banyak, tidak lebih dari 15. Itu pun tak semuanya aktif berburu. Selain nilai harta yang menggiurkan, persaingan dipicu oleh sedikitnya ahli harta karun. Perusahaan berebut tenaga ahli yang umumnya warga negara asing, termasuk Hatcher.

    Pada 2002, misalnya, perusahaan Budi Prakoso mempekerjakan Hatcher. Namanya tercantum dalam surat kepengurusan izin pengangkatan yang dikirim PT Tuban Oceanic ke Angkatan Laut. Pada awalnya Budi membantah berhubungan dengan Hatcher. Tapi, setelah Tempo memperoleh dokumen pengurusan izin, ia mengakui pernah mempekerjakan sang pemburu harta.

    Ia mengatakan Hatcher " terlalu banyak mengetahui isi perut perairan Indonesia". Karena itu, ia beralasan, merekrut pria sepuh itu untuk survei di perairan Selat Mare, Tidore, Maluku Utara, pada 2002. Tujuannya, kata dia, agar Hatcher bisa dikontrol dan tidak mencuri lagi. "Tapi, diam-diam dia kembali ke lokasi dan mau mencuri," ujarnya.

    Hubungan Tuban Ocean dengan Hatcher pun putus. Tiga tahun lalu, PT Comexindo Usaha Mandiri mempekerjakan Hatcher. Ketika itu, menurut Direktur Hukum Comexindo, Haryo Yuniarto, perusahaannya belum masuk dunia pengangkatan harta dan baru membicarakan titik survei. Itu sebabnya, ia menuturkan, Comexindo mengundang para ahli, termasuk Hatcher.

    Comexindo memiliki hubungan baik dengan Angkatan Laut. Perusahaan ini merekrut Laksamana Purnawirawan Achmad Sutjipto, mantan Kepala Staf Angkatan Laut, menjadi komisaris. Ada juga Laksamana Muda Purnawirawan Heribertus Sudiro, mantan anggota Fraksi Tentara Nasional Indonesia di Dewan Perwakilan Rakyat, sebagai direktur. Kantor perusahaan ini pun memakai ruko milik Induk Koperasi Angkatan Laut.

    Menurut Omar Fazni Rulyadi, Direktur Utama PT Adi Kencana Salvage, perusahaan pemburu harta karun lainnya, persaingan sebenarnya sudah dimulai sejak proses penemuan titik lokasi. Persaingan meningkat pada waktu mengurus izin survei. Pengusaha 30 tahun ini menyatakan pernah mengajukan izin survei di satu lokasi penemuan. Ternyata lokasi yang sama diklaim perusahaan lain. Informasi lokasi penemuan barang paling banyak diberikan nelayan. Tapi tak semuanya akurat. "Atau, informasi yang sama dijual ke perusahaan lain," tuturnya.

    Adi Kencana termasuk yang aktif mencari, menemukan, dan mengangkat harta karun. Dalam laporan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Barang Muatan Kapal Tenggelam, Mei 2010, Adi Kencana mengangkat harta karun di perairan Karang Heluputan (2006) dan Teluk Sumpat (2006), keduanya di Kepulauan Riau. Satu lokasi lagi di perairan Laut Jawa, Jepara, pada 2008.

    Untuk ketiga lokasi ini, Omar harus menggelontorkan hampir US$ 8 juta. Hanya, temuan sekitar 60 ribu keping harta dari Dinasti Ching, Ming, Yuan, dan Sung itu kini masih terdampar di tiga gudang yang disewa Omar, menunggu lelang bersama pemerintah. "Selama itu, saya harus bayar sewa gudang, perawatan dan pengamanan Rp 75 juta sampai Rp 100 juta setiap tahun," katanya.

    l l l

    MALANG-melintang di bawah laut sejak awal 1980-an, Berger Michael Hatcher kembali ramai dibicarakan. Dari sebuah video yang diputar Konsorsium Penyelamat Aset Bangsa beberapa waktu lalu, jagoan pemburu harta karun ini diduga beroperasi di perairan Blanakan, Subang, Jawa Barat, pada Juni 2009. Dia terlihat memamerkan sejumlah barang porselen yang, menurut dia, berasal dari Dinasti Ming.

    Aksi kakek 70 tahun ini mengejutkan pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sebuah tim terpadu dibentuk Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Tim ini melibatkan Direktorat V Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI. Polisi pun meminta Direktorat Imigrasi mencegah Hatcher keluar Indonesia.

    Kepolisian menyelidiki keterlibatan Hatcher dalam pencurian benda berharga. Selasa pekan lalu, pria kelahiran Inggris ini dipanggil ke Badan Reserse. "Dia tidak datang," ujar Direktur Direktorat V, Brigadir Jenderal Suhardi Alius, Jumat pekan lalu. Dia memastikan, Hatcher belum menjadi tersangka. "Kami masih mengumpulkan keterangan," tuturnya.

    Pekan ini Badan Reserse kembali melayangkan panggilan pemeriksaan. Suhardi memastikan, Hatcher masih berada di Jakarta. Sumber Tempo menyebutkan Hatcher tinggal di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Ketika dimintai konfirmasi, Zhakira Tamayanti, manajer humas hotel itu, membenarkan Hatcher pernah menginap di sana. "Saya tidak tahu kapan persisnya dia keluar," katanya.

    Michael Hatcher adalah legenda hidup perburuan harta karun. Namanya mulai banyak disebut ketika berhasil mengeruk 225 lantak emas dan 150 ribu keping keramik Cina dari bangkai kapal Vec De Geldermasen di perairan Bintan Timur, April 1985. Dikenal sebagai The Nanking Cargo, kapal itu tenggelam pada 1752. Hatcher meraup US$ 15 juta dari pelelangan barang-barang itu di Balai Lelang Christie, Singapura.

    Meski ditangkal masuk Indonesia, Hatcher tetap menyelami dasar samudra memburu harta. Pada Mei 1999, ia menemukan onggokan kapal Tek Sin Cargo, yang tenggelam pada 1822 di Selat Gelasa, seputar Pulau Bangka. Pemerintah buru-buru mengancam mengumumkan itu harta karun ilegal, sebelum Hatcher melelang temuannya di Stuttgart, Jerman, pada 17-25 November 2000 (lihat "Mengejar Sampai Stuttgart").

    Kehadiran Hatcher di perairan Blanakan pada Juni 2009, menurut Koordinator Konsorsium Aset Bangsa, Endro Soebekti Sadjiman, sebagai konsultan yang dikontrak perusahaan lokal, PT Comexindo Usaha Mandiri. Aktivitas Hatcher itu tanpa izin pemerintah. "Sebab, izin baru diberikan kepada Comexindo pada November 2009."

    Budi Prakoso, pemilik PT Tuban Oceanic Research & Recovery, menuduh Hatcher bahkan sudah mengeruk harta sebelum izin survei keluar. Padahal izin survei dan izin mengangkat barang muatan kapal tenggelam dikeluarkan terpisah. Dugaan penyimpangan izin oleh Hatcher dan Comexindo itulah yang dibidik polisi. Itu sebabnya, para petinggi Comexindo telah dimintai keterangan.

    Ditemui di kantornya di kawasan Kelapa Gading Boulevard, Jakarta Utara, Direktur Hukum Comexindo Haryo Yuniarto membenarkan pemeriksaan polisi. Menurut dia, polisi telah memanggil Direktur Utama Comexindo Anton Nangoy; Direktur Operasi Edwin Tanod; penyelam Gunawan, Buyung, dan Qoyum; tenaga administrasi Saiful; serta teknisi Nazlie Kurdi, yang berkewarganegaraan Singapura.

    Haryo mengatakan, tidak benar Comexindo melakukan pelanggaran penyelaman. Didampingi Laksamana Muda Purnawirawan Heribertus Sudiro, ia menunjukkan surat izin survei dan izin pengangkatan untuk proyek Blanakan. Ia pun menegaskan Comexindo sama sekali tidak lagi melibatkan atau berkomunikasi dengan Hatcher. "Terakhir berkomunikasi empat bulan lalu," tuturnya.

    Dia pun berencana meminta pertanggungjawaban Konsorsium Aset Bangsa, yang menyebutkan Hatcher sebagai konsultan perusahaannya. Ia mengatakan tuduhan itu dilemparkan perusahaan lain yang iri pada temuan Comexindo. "Kami kan mendapat barang bagus dari Blanakan."

    Anne L. Handayani, Muhammad Nafi

    Harta yang Terungkap

    1983

    Riau

    • Muatan: 22 ribu keping porselen Dinasti Ming
    • Pemilik: United Sub-Sea Services, Ltd. (Michael Hatcher)
    • Nilai lelang: US$ 2,1 juta

    Bintan Timur, Riaul 239 ribu keping porselen dan 45 kilogram emas.

    • United Sub-Sea Services, Ltd. (Michael Hatcher), Swartberg Ltd.
    • US$ 15 juta

    1999

    Heluputan, Riau l 37 ribu keping keramik Dinasti Song

    • PT Ekalingga Adikencana (Herman Spiro)

    Pulau Buaya, Riaul 31.370 keping guci, cupu, kendi, piring, pot keramik Dinasti Sung dan Yuan

    • PT Muara Wiwesa Samudra (Tommy Soeharto/Chepot Hanny Wiano)
    • US$ 15 juta

    Bangka, Sumatera Selatan l 46 ribu keping barang antik Cina Dinasti Tang

    • PT Sulung Segarajaya (Oky Otto-Otto)

    Perairan Blanakan, Jawa Baratl 13 ribu keping keramik Thailand dan Vietnam, keramik Cina Dinasti Song dan Yuan

    • PT Lautan Mas Group (Andi Asmara)
    • Belum ada penawaran Perairan Jepara, Jawa Tengahl 28.500 ribu keping keramik Dinasti Ming
    • PT Ekalingga Adikencana (Herman Spiro)
    • Rp 800 juta Selat Gelasa, Sumatera Selatanl 350 ribu keping barang antik terdiri atas porselen jenis piring biru-putih, keramik seladon jenis piring, porselen poci berukir naga abad ke-15, dan patung granit
    • PT United Sub-Sea Services Indonesia (USSI) Suwanda dan Michael Hatcher
    • DM 35 juta (setara dengan Rp 140 miliar pada kurs Rp 4.000)

    Perairan Tuban, Jawa Timurl Ratusan mangkuk Vietnam abad ke-4 dan tembikar Cina Dinasti Han

    • PT Tuban Oceanic & Recovery/(Budi Prakosa)
    • Rp 350-400 ribu per keping Perairan Tidore, Malukul Keramik Dinasti Ming l PT Baruda Persada Internusa (Andy Asmara)

    Selat Gelasa, Sumatera Selatanl 3 karung keramik l PT Samudera Kembar Jaya Selat Gelasa, Sumatera Selatanl 33 kontainer barang antik Dinasti Ching

    • PT Sub-Sea Services Indonesia dan PT Persada Cakrawala Dirga (Hatcher & Suwanda)
    • US$ 1,5 juta (setara dengan Rp 10,5 miliar pada kurs Rp 7.000)

    2002

    Selat Karimata

    • 31.029 keramik dan dan logam Cina Dinasti Yuan
    • PT Tuban Oceanic Research & Recovery (Budi Prakosa)

    2005

    Laut Jawa, Cirebon

    • 271.834 keramik, logam, perhiasan Cina lima Dinasti, Timur Tengah, Afrika
    • PT Paradigma Putra Sejahtera (Adi Agung)
    • US$ 42,575 juta

    2006

    Karang Heluputan, Riau

    • 21.521 keramik, jangkar, meriam, logam Cina dinasti Ching dan Ming
    • PT Adikencana Salvage
    • US$ 493,7 ribu

    Teluk Sumpat, Riau

    • 16.461 keramik dan batuan Cina Dinasti Yuan dan Ching
    • PT Adikencana Salvage
    • US 175,2 ribu

    2008

    Laut Jawa, Jepara

    • 14.814 keramik dan koin Cina lima dinasti
    • PT Adikencana Salvage

    Laut Jawa, Karawang

    • 6.422 keramik Cina lima dinasti
    • PT Adikencana Salvage

    2009

    Perairan Belitung Timur

    • 34.680 koin, meriam, keramik abad ke-18

    April 2010

    Perairan Ujung Pamanukan

    • 18.551keramik Cina Dinasti Ming
    • PT Comexindo Usaha Mandiri (Anton A. Nangoy)
    http://majalah.tempointeraktif.com//id/arsip/2010/05/24/LU/mbm.20100524.LU133632.id.html

[Koran-Digital] Tokoh-tokoh Penting Akan Hadiri Sidang Praperadilan Susno

Senin, 24/05/2010 07:03 WIB
Tokoh-tokoh Penting Akan Hadiri Sidang Praperadilan Susno
E Mei Amelia R - detikNews

Jakarta - Sidang perdana praperadilan atas penetapan status tersangka dan penahanan Komjen Pol Susno Duadji akan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sejumlah tokoh dan purnawirawan polri akan datang untuk menyaksikan jalannya persidangan tersebut.

Juru Bicara tim pembela Susno, Ari Yusuf Amir mengatakan, sidang akan dimulai pukul 10.00 WIB di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Senin (24/5/2010).

Melihat fakta-fakta hukum yang ada, Ari optimis hakim akan mengeluarkan ketetapan bahwa penahanan kliennya tidak sah. Sebab, penahanan Susno hanya didasarkan pada satu alat bukti saja, yakni pengakuan Sjahril Djohan, yang disebut sebagai aktor besar mafia kasus di tubuh Polri.

"Alat bukti yang dimiliki polisi hanya pengakuan Sjahril. Sangat berbahaya kalau hanya berdasarkan pengakuan seseorang, apalagi dia juga menjadi tersangka, Pak Susno kemudian ditahan. Saya yakin hakim akan bersikap obyektif dan memenangkan gugatan kami," ujar Ari dalam siaran pers yang diterima detikcom, Senin (24/5/2010)

Sikap hakim yang mandiri dan berani menolak kesewenang-wenangan polisi, lanjut Ari, akan sangat membantu menciptakan iklim yang kondusif dalam pemberantasan mafia hukum. "Masyarakat akan makin berani dan bersikap pro aktif dalam ikut memberantas mafia hukum. Sebab mereka akan menilai bahwa hukum tetap berpihak pada kebenaran," tegasnya.

Sejumlah tokoh penting dan purnawirawan polri direncanakan akan hadir dalam sidang praperadilan Susno.
Mereka antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Ketua Komisi Yudisial Busro Muqodas, Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif dan mantan Hakim Agung Bismar Siregar. Dari Purnawirawan Pati Polri akan hadir antara lain mantan Ketua TPF Munir Brigjen Marsudi Hanafi.

"Insya Allah para tokoh tersebut akan hadir," kata Ari.

Menurut Ari, sidang praperadilan ini memang menarik perhatian publik karena kentalnya aroma rekayasa dalam kasus Susno. Banyak kalangan yang menilai Susno sengaja dibungkam oleh para petinggi Polri karena upayanya membongkar mafia kasus di lembaga penegak hukum, khususnya Polri.

"Mereka akan hadir untuk memastikan hakim berani bersikap mandiri dan mampu menolak adanya intervensi," tegas Ari.
(mei/irw)

http://us.detiknews.com/read/2010/05/24/070304/1362649/10/tokoh-tokoh-penting-akan-hadiri-sidang-praperadilan-susno?881103605